Cara Penanggulangan Kebakaran di Laboratorium

Pekerjaan di Laboratorium tidak pernah luput dari mara bahaya, tak terkecuali kebakaran. Oleh karena itu, lab harus didesign sedemikian rupa agar memenuhi kesehatan dan keselamatan kerja.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kok bisa ya terjadi kebakaran, apa penyebabnya?

Kebakaran sebenarnya bukanlah proses yang terjadi secara tiba-tiba. Secara umum, kebakaran terjadi jika terpenuhi unsur-unsur penyebabnya, yaitu:
  1. Bahan bakar
  2. Udara/Oksigen
  3. Sumber penyalaan
Sebagai pekerja lab, kita juga harus mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan untuk menangani kebakaran di Laboratorium. Kesadaran yang tinggi akan bahaya di sekitar kita juga sangat penting untuk ditanamkan dalam diri kita.

Oke, sebelum ke penjelasan lebih dalam lagi, ada baiknya kamu mengetahui hal-hal di bawah ini.
Cara Penanggulangan Kebakaran di Laboratorium
Ilustrasi Penanganan Api/Kebakaran

Jenis Api dan Penggolongannya

Golongan A: Berasal dari bahan padat, misalnya batu bara, kayu, kertas, dan limbah padat. Peristiwa kebakaran yang cepat disebabkan oleh senyawa yang mudah menguap karena panas.

Golongan B: Berasal dari gas dan cairan yang dapat menghasilkan uap.

Golongan C: Berasal dari perangkat listrik, berdekatan dengan sumber yang bermuatan atau berdaya listrik.

Golongan D: Berasal dari logam, seperti magnesium (Mg), Aluminium (Al), Titanium (Ti), Natrium (Na), dan logam lain yang mudah teroksidasi. Temperatur pembakaran dan energi yang dihasilkan sangat tinggi dibanding golongan lain.

Golongan Khusus, yaitu api yang ditimbulkan oleh senyawa oksidator atau campuran bahan bakar, seperti senyawa atau bahan yang mudah terbakar akibat kontak dengan oksigen, hidrogen peroksida, dan sebagainya.

Penyebab Utama Kebakaran

  • Pemanasan yang tidak tepat, yaitu apabia zat yang mudah terbakar dipanaskan tidak sebagaimana mestinya. tidak berhati-hati memakai penangas minyak, dan tidak memeriksa suhu minyak secara berkala.
  • Penyebaran uap dan gas-gas yang mudah terbakar, misalnya tidak melakukan pendinginan yang baik ketika penyulingan, ada kebocoran zat, reaksi yang perlu dilakukan di lemari asam/ruang khusus, menuang sejumlah besar zat yang mudah terbakar, berceceran cairan mudah menguap, atau kurang baiknya ventilasi udara.
  • Pecahnya wadah/botol zat yang mudah terbakar yang dipanaskan di atas logam.
  • Kelalaian penggunaan gas dan listrik, seperti adanya kebocoran gas dan timbul loncatan api listrik karena hubungan pendek arus (korsleting)
  • Kesadaran diri yang kurang/kurang hati-hati, misalnya merokok, membuang korek api, dan lain-lain.

Cara Mencegah Terjadinya Kebakaran di Laboratorium

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran di laboratorium:

1, Menyimpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang aman dari sumber nyala api.

2. Menggunakan wadah yang tepat untuk menyimpan atau menuang bahan cair yang mudah terbakar.

3. Jangan biarkan sampah (contohnya kertas yang tidak terpakai) menumpuk dan membakarnya di tempat sembarangan

4. Semua pintu keluar bebas dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

5. Pastikan semua kabel dan peralatan listrik tidak rusak.

6. Jangan memberi beban berlebih pada sirkuit (rangkaian) listrik.

7. Buatlah peraturan dan tata tertib peringatan bahaya kebakaran dan semua orang yang bekerja di laboratorium harus mematuhinya.

8. Sediakan peralatan pemadam kebakaran yang paling sesuai (misalnya APAR), dan pastikan penempatannya tepat memenuhi kriteria berikut ini:
  • Mudah dijangkau
  • Mudah terlihat
  • Jarak yang tepat
  • Tidak terkunci
  • Jangan dalam keadaan kosong

9. Hindari kebiasaan buruk yang tidak pada tempatnya, khususnya di laboratorium, seperti:
  • Merokok
  • Menempatkan alat pemanas di sekitar bahan-bahan yang mudah terbakar

10. Apabila terjadi kebakaran, segera lakukan evakuasi.

Cara Memadamkan Api/Kebakaran

Cara Memadamkan Api Kebakaran

Pemadaman kebakaran dilakukan sesuai dengan golongan api.

1. Air
Air digunakan untuk memadamkan api golongan A, tidak sesuai untuk golongan api lainnya.

2. CO2
Gas CObaik digunakan untuk memadamkan api golongan B dan C, khususnya untuk api yang timbul akibat listrik dan api yang melibatkan peralatan optik.

3. Bubuk kering
Bubuk kering (biasanya natrium bikarbonat) dipakai untuk pemadakam api golongan A, B, dan C. Hal yang perlu diperhatikan adalah bubuk kering tersebut dapat merusak peralatan listrik dan optik.

4. Pemadam Halon (campuran karbon dan gas halogen)
Digunakan untuk memadamkan api golongan C, terutama untuk dinstalasi komputer atau instrumentasi, karena bahan tersebut tidak merusak sirkuit pada instrumen. Sayangnya, pemadam jenis ini sekarang dilarang karena efek rumah kaca.

5. Senyawa pemadam api logam
Digunakan untuk memadamkan api golongan D. Campuran ini mengandung pasir, soda abu, grafit, dan butiran plastik.

Itulah Cara Penanggulangan Kebakaran di Laboratorium. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, amiin...

DAFTAR PUSTAKA

Hartati., 2008. Handout, Manajemen Laboratorium, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya

http://www.chem.cornell.edu/department/Resources/safetyfour.html

Singarimbun, A., 2002. Penanggulangan Bahaya Kebakaran, FMIPA ITB, Bandung

Baca juga: Cara Penanganan dan Pengolahan Limbah Laboratorium